Malam itu malam ke dua puluh lima bulan Romadhon, aku sedang berlibur di rumah sepupuku di Jakarta.
Saat itu aku sedang amat kebingungan. Dan itu hanya disebabkan oleh sebuah sejadah biru milikku
Yusriiiiii !!!Cepetan, ntar telat lagi, lho.” Teriak ka dian sepupuku dari luar kamar. Aku tak menjawab, namun ku buka pintu.
“Lagi ngapain, sih. Cepet! Ntar nggak dapat tempat lagi baru tahu rasa.” Betak ka dian kepadaku.
“ih kaka, bentar dulu,aku bingung nih. Bawa sejadah atau nggak ya” jawabku.
“Bawa…enggak…bawa…..enggak…bawa…” aku menghitung kancing bajuku dengan serius.
“Kamu tuh mau tarawih apa enggak, sih? Ato mau berangkat sendiri?”
“Sebentar, dong.Lagi pusing, nih. Cerewet amat.”
“Pusing kok dipiara. Sampai kapan kamu akan diperbudak oleh sajadah itu?” Potong ka Dian tandas.
“Enak aja. Masa aku budaknya sajadah.” Tanganku langsung menyematkan mukena ke kepalaku sendiri..
“ya udah makannya cepetan sepupuku yg paling nyebelin” katanya dengan nada meledek.
“Kamu tuh mau tarawih apa enggak, sih? Ato mau berangkat sendiri?”
“Sebentar, dong.Lagi pusing, nih. Cerewet amat.”
“Pusing kok dipiara. Sampai kapan kamu akan diperbudak oleh sajadah itu?” Potong ka Dian tandas.
“Enak aja. Masa aku budaknya sajadah.” Tanganku langsung menyematkan mukena ke kepalaku sendiri..
“ya udah makannya cepetan sepupuku yg paling nyebelin” katanya dengan nada meledek.
Aki saat itu benar-benar bingung. Masa cuman gara2 sejadah aku sampe bingung kaya gini, biasanya sih tak seperti ini. Tapi kali ini ada yang berbeda. Perasaanku ga enak. Seakan akan ada sesuatu yang memberi isyarat kalau aku bawa sejadah itu, aku akan mengalami kesialan. Ah tapi aku pikir itu hanya perasaan aja. Lantas ku putuskan untuk membawa sejadahku itu.
“ayo ka. Kita go !!”
“lama amat sih, yuuu cepetan !! “ ka Dian menarik tanganku.
Di tengah perjalanan, ka Dian bertanya
“sebenarnya kenapa neng? Kok cuman gara2 sejadah aja mikirnya sampe segitunya?”
“gatau ka, aku ga enak perasaan. Kaya ada yg mengganjal gitu” jelasku.
“Kamu nggak pede karena modelnya?” kata ka dian
“Modelnya kan sama kaya punya kaka.”
“Atau baunya nggak enak karena lama nggak dicuci?” ka dian bertanya tanpa ekspresi.
“Nih, cium. Wangi, kan?”
“Atau baunya nggak enak karena lama nggak dicuci?” ka dian bertanya tanpa ekspresi.
“Nih, cium. Wangi, kan?”
“Trus?Jangan-jangan itu sajadah curian dan ketahuan oleh pemiliknya.” Aku pun menoleh.
“Enak aja! Emang aku keturunan maling.” Mataku melotot galak.
“Atau jangan-jangan uang yang kamu pakai untuk membeli adalah hasil korupsi.” Mimik wajah ka dian dibuat seolah-olah serius.
“Enak aja! Emang aku keturunan maling.” Mataku melotot galak.
“Atau jangan-jangan uang yang kamu pakai untuk membeli adalah hasil korupsi.” Mimik wajah ka dian dibuat seolah-olah serius.
“ih kaka. Mana ada orang korupsi buat beli sajadah? Emangnya Allah bisa disuap dengan sajadah? Yang ada, korupsi buat beli rumah, mobil mewah dan jalan-jalan keluar negeri.”
“Yaa, kali aja ini lain.”
“sudahlah ka, mungkin ini hanya perasaan ku aja. Muda2an aja perasaanku ini bukan firasat apa2”
“Yaa, kali aja ini lain.”
“sudahlah ka, mungkin ini hanya perasaan ku aja. Muda2an aja perasaanku ini bukan firasat apa2”
“aamiin, yu agak cepet jalannya, takut ketinggalan sholat isya” ajak ka Dian.
* * * * * *
ketika sampai di Mesjid,
ketika sampai di Mesjid,
“Terimaksih, Dek. Tadi saya buru-buru ke masjid. Jadi lupa nggak bawa sajadah.” Seorang ibu setengah baya tersenyum ramah kpd ku ketika membagi sajadah dengannya. Tapi rasa senang itu tidak berlangsung lama. Saat sholat mulai tampaklah sebuah permasalahan yang bagiku tidak bisa diremehkan. Shof sholat tidak rapat. Padahal Umar bin Khottob pernah merapikan shof dengan pedangnya karena begitu pentingnya shof yang rapat dan lurus agar tidak ada celah bagi syetan untuk engganggu selama solat.
Aku bertekad akan berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan yang ada. Bagiku ini adalah peluang amal yang harus dimanfaatkan. Maka aku sedikit menindihkan sejadah punyaku kpd sejadah milik seorang ibu disampingku yg sedang sholat isya. Dan akupun memulai sholatku yang ketinggalan satu rokaat. Hingga sholat isya sudah di laksanakan, ibu muda di sampingku itu memandangku. Aku membalas tatapan sinisnya dgn senyum termanisku. Ibu muda itu kelihatan dari orang yang cukup berada. Mukenanya jelas tergolong mahal, tapi sayang wajahnya tidak ramah. Kalau saja ia mau tersenyum sedikit saja, pasti kelihatan cantik. Aki merasa senyumku tak berbalas, aku pun merasa jengah juga dipandangi seperti itu.
“Ehm…, maaf, bu, Apa ada yang salah dengan saya?” aku bertanya dengan hati-hati. Suaraku dibuat sepelan mungkin agar tidak mengganggu yang lain.
“Lho, nggak nyadar juga. Tampangnya, sih siswi sholehah. Ternyata nggak tahu sopan santun.! Jawabnya pedas. Meskipun suara si ibu pelan tapi cukup membuat wajah-wajah di sekitarnya menoleh kearahku.
“Lho, nggak nyadar juga. Tampangnya, sih siswi sholehah. Ternyata nggak tahu sopan santun.! Jawabnya pedas. Meskipun suara si ibu pelan tapi cukup membuat wajah-wajah di sekitarnya menoleh kearahku.
“Kenapa Anda nempel-nempel dekat saya? Seenaknya saja menumpuki sajadah saya dengan sajadah murahan! Ini sajadah mahal, saya beli di Arab waktu haji. Harganya mahal tau. Emang kalau lecek mau ngganti?” sungguh mukaku seperti disiram lahar gunung merapi yang baru meletus. Wajahku memerah,Telingaku memanas, begitu pula mataku. Akupun segera terpaku pada sajadah biru yang menutupi sebagian sajadah si ibu. Padahal aku melakukan semua itu karena ingin shaf shalat menjadi rapat. Apalagi posisinya yang ada di ujung paling kiri barisan membuatku harus mendekat ke arah kanan. Tapi aku benar-benar tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu.
Dengan cepat si ibu berdiri dan menyambar sajadah mahalnya. Ia bergegas ke barisan belakang meninggalkanku dalam sorotan mata dengan berjuta ekspresi. Ada ekspresi simpati karena kasihan, ekspresi gemes dan gregetan, ekspresi geli karena menahan tawa sampai yang cuek seolah tak terjadi apa-apa. Aku tidak lagi peduli dengan tatapan mata yang tertuju kepadanya. Yang aku rasakan cuma satu : malu.
Husna mulai berhati-hati bersikap karena tak semua niat baik berbuntut manis. Aku pun bergeser untuk memindahkan sejadahku agar rapat dgn makmum di sampingku, karena tempat yang ibu muda tinggalkan itu menyisakan tempat kosong.
Tiba2 ada seorang nenek menegurku
“Neng, kenapa sajdah saya dipake? Nenek itu baru belajar sholat dan harus pake sajadah biar nggak kedinginan. Masa baru ditinggal wudhu sebentar sajadah sudah lenyap. Di bulan suci begini kok ya masih sempat ngembat barang orang.”
aku sedikit kaget, namun ku coba berusaha tersenyum dengan tuduhan yang dialamatkan kepadaku itu.
aku sedikit kaget, namun ku coba berusaha tersenyum dengan tuduhan yang dialamatkan kepadaku itu.
“Maaf, Nek saya dari tadi di sini. Dan ini sajadah saya. Mungkin Nenek lupa menaruh sajadah nenek. “aku menjawab dengan hati-hati. Gadis di sebelahku melirikku curiga.
“Kalau itu memang sajadah Neng, kenapa mesti disembunyikan di bawah sajadahnya?” tangan si Nenek menunjuk sajadahku yang tertutup oleh sajadah si Gadis. Tiba-tiba si Gadis berdiri.
“Maaf, Mbak. Saya nggak mau sajadah saya dijadikan tempat menyembunyikan barang curian.” Aku ingin menjelaskan lebih jauh tapi si Gadis terlanjur pergi.
“Kalau itu memang sajadah Neng, kenapa mesti disembunyikan di bawah sajadahnya?” tangan si Nenek menunjuk sajadahku yang tertutup oleh sajadah si Gadis. Tiba-tiba si Gadis berdiri.
“Maaf, Mbak. Saya nggak mau sajadah saya dijadikan tempat menyembunyikan barang curian.” Aku ingin menjelaskan lebih jauh tapi si Gadis terlanjur pergi.
Semuanya tampak memperhatikanku. Aku sungguh sangat malu. Hingga tarawih malam itu bubar, aku pulang dgn wajah murung. Ka dian sedikit menghiburku
“sudahlah neng,lupakan saja. Lain kali kalau bertindak sesuatu di jakarta harus serba hati2”
“iya ka, ternyata firasatku tadi memang benar. Hah,,, malu sekali rasanya”
“ya sudah ya sudah,anggap saja ini sebagai pengalaman ya neng “ jawab ka dian menasihati
“iya ka” timbalku masih berwajah murung.
“senyum dong, wajahmu tambah jelek tau kalau cemberut!”
“huh kaka! Iy nih aku senyum”sambil menarik sudut bibirku.
Pengalaman itu sungguh takkan ku lupakan, bahwa tak semua tindakan baik akan berbuntut manis. Ada kalanya akan terjadi kegagalan.




