Gemuruh angin semakin menderu, air hujan semakin bergemuruh, petir menyambar-nyambar membuat getir yang mendengar yang ikut berduka atas raibnya sepasang sandal ajaib seorang putri Rayys Tiwi Similikiti, namun para putri Rayys belle tetap tenang dengan ketegaran hatinya yang selalu siap menghadapi apapun yang dia alami selama hidupnya karena mereka memang orang-orang yang sholehah yang tak pernah putus asa, shabar dan penuh percaya akan kekuasaan Allah SWT.
Kian lama derunya air, riuhnya angin semakin mereda, petir hanya terdengar semakin menjauh seakan mengikuti semakin jauhnya sandal ajaib terbawa arus air hujan, kadang terdengar dari kejauhan suara sandal ajaib berteriak minta tolong.
“Toloooooong, tolong aku Tiwiiiiiii, selamatkan aku. Aku tak ingin jatuh kepelukan orang yang tidak bertanggungjawab” memang getir juga sih mendengarna, hati para putri kadang sedih juga mendengar tiriakan itu, namun apalah daya tangan tak sampai untuk menjangkau sandal ajaib itu yang entah telah sampai dimana.
“Teman-teman, hujan mulai reda, angin sudah tidak kencang lagi, petirpun sudah menjauh, mari kita mulai petualangan kita” kata Shinta yang memang dia suka dengan petualangan.
“Ok...lah kalo begitu” kata Via, Tiwi dan Rindu serempak namun berbeda nada Via dengan suara pertama, Tiwi suara ke dua dan Rindu suara ketiga sehingga menghasilkan nada yang begitu indah didengar tak kalah indah dengan suara nada Chery belle.
“Fiqhyshiwa kami mohon do’a restu untuk memulai petualangan kami demi mencari sandal yang hilang dan menemukan pengeran kodok sebagai jodoh kami” kata para putri dengan penuh hidmat.
“Baiklah para putri, Do’aku menyertaimu, selamat berjuang selamat berpetualang, semoga kalian dapat menemukan kembali sandal capit yang hilang, eeehhh..... salah sandal ajaib maksudnya (dasar Fiqhyshiwa sempat-sempatnya bercanda) dan semoga kalian menemukan pangeran kodok yang akan menjadi jodoh kalian” Kata Fiqhyshiwa dengan nada yang memberi semangat.
Para putri saling berpelukan dengan penuh haru merekapun mencucurkan air mata yang menetes bagaikan mutiara.
Dengan mengucapkan bismillah mereka memulai petualangan itu
“Teman-teman karena Tiwi kehilangan sandal ajaibnya maka dia gak bisa terbang, bagaimana kalau kita sama-sama membuka sandal ajaib kita semua” kata Shinta dengan gaya pemimpinnya.
“Betul..” kata Via. “ Ya bener” kata Rindu juga. “Ohhhhh makasih teman-teman....Berpeluuuukaaannn” kata Tiwi sambil berpelukan dengan teman-temannya. Jadi terharu juga nih kak Taufiq melihatnya, memang teman-teman, kita harus saling merasakan apa yang teman kita rasakan sehingga persahabatan kita akan semakin indah dan menyenangkan ... emh gayanya kak Taufiq kalo bicara.
Para putri mulai melangkah dengan telanjang.........haaaaahhhhh..................................................kaki.
Kaki yang biasanya menginjak permadani yang dihiasi intan berlian namun kini mereka meridokan dirinya untuk berjalan telanjang kaki di pematang sawah di pinggir sungai. Beberapa langkah mereka merasa geli dan kesakitan namun setelah lama melangkah mereka jadi terbiasa juga. Entah telah berapa jauh mereka melangkah namun belum ada tanda-tanda yang menggemberikan.
“Sssssssssssttttt” tiba-tiba Tiwi mendesis.
“ada apa Wi” tanya Rindu penasaran
“Iya ada apa” kata Shinta dan Via penasaran juga sambil mendekatkan telinganya ke mulut Tiwi.
“Tuh lihat di depan” kata Tiwi
“Mana...........?” kata Shinta, Rindu dan Via dengan nada suara yang tepecah, sungguh pembagian suara yang sempurna sehingga menghasilkan suara yang sangat indah. 7 icon mah ahhhh lewaaat weh.
“Itu.....tu...tu...tu.....pucuk dicinta ulam tiba, sandal belum ketemu kita dapat pangeran” kata tiwi sambil menunjuk seekor kodok yang sedang tersenyum melihat kecantikan para putri Rayys belle.
“Diem.... akan aku dekati kodok itu. Dan akan kucium agar dia jadi pengeran lagi” kata Tiwi penuh percaya diri. Dan Emmmmmahk........Tiwi mencium kodok itu dengan penuh perasaan.
“diem-diem-diem... tunggu sebentar nati dia akan menjadi pangeran yang tampan” kata Tiwi lagi
Mata mereka terus melihat kodok itu, namun kodok itu malah tersenyum manis.
“Lo kok ga jadi pangeran ya” kata Tiwi
“Biar sekarang aku yang cium” kata Rindu dan Emmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmahk Rindu menciumnya dengan sangat berambisi agar kodok itu menjadi pangeran, namun kodok itu malah tertawa Webek...webek...webek...... he...he..he.
“LO kok Malah ketawa ya” mungkin dia bukan jodohku kata Rindu sedih.
“Nah sekarang giliran aku” kata Via dan emmmmmmmahk, namun kodok itu malah terbatuk-batuk mungkin menahan tawa dan geli.
“Nah sekarang giliran aaaaakuuuuuuuuu” kata Shinta kemudian shinta memoncongkan bibirnya sambil merem melek dan mendekatkannya ke sangkodok, tapi dia tersentak kaget ketika mendengar kodok itu lari dan tertawa terbahak-bahak. “Hahahahahahahahahahahahah..............Ketipuuuuu aku mah bukan pangeran kodok tahu...aku mah kodok asli hhahaha.....”
“ Iiiiih dasar sebel da ..kita ketipu” Kata Via, Rindu dan Tiwi serempak. Namun Shinta masih terdiam kaget sambil memocongkan bibirnya.
“Eh... Shin udah itu bibir jangan dimoncongin terus kodoknya udah pergi” kata Via, Rindu dan Tiwi.
“Eh...” kata Shinta sambil menutup mulut rada-rada malu
“untung aku ga jadi menciumnya” kata Shinta dalam hati sambil terus menutup mulut nya menahan tawa.
Mereka terus menelusuri tepian sungai tanpa ada rasa lelah dan takut padahal hari sudah mau berganti malam. Mereka singgah disuatu Saung dan diam dulu disana dan melaksanakan sholat.
“Ini kita jadikan markas kita Temen-temen, kayanya bagus ni” kata Shinta dengan gaya pemimpinnya.
“Ya bener saung ini kita jadikan markas kita aja” kata Via, Rindu dan Tiwi serempak. Mereka menginap disana.
Keesokan harinya matahari bersinar begitu indah mempesona membuat kita teringat kepada Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan keindahan ini. Burung-burung berkicau riang. Angin semilir menyegarkan hati yang sedang gundah, gemericik air sungai mengalir jernih menyejukan hati. Pagi-pagi mereka ngaliwet heula untuk sarapan hehehe... dan menyantapnya dengan penuh kenikmatan.
“Ya memang ini tempat yang bagus untuk kita jadikan markas teman-teman” kata Shinta kembali berujar.
“ya..ya./.ya” kata teman”nya sambil terus melahap liwet yang hangat dan enak, sesekali mereka mendesis karena sambalnya terlalu pedes kali ya. Aaaaah Kak Taufiq jadi pengen ni. Kapan ya kita ngaliwet bersama?
Mereka mulai meneruskan petualangannya, namun sudah hampir sore belum juga ada tanda-tanda keberhasilan.
“SSSSSSSSSSTTTTTTTTTTTT” Shinta mendesis
“ada apa Shin?” kata Via, Rindu dan Tiwi
“Itu lihat tu..tuu..tu..tu” sambil menunjuk kodok yang begitu indah dengan senyumnya yang menawan,
“Sekarang kita cium bareng-bareng aja..gimana?” kata Tiwi.
“Ya ok..ok.ok..” kata Via, Shinta dan Rindu.
Mereka berputar mengelilingi sang kodok itu sehingga kodok itu kebingungan harus kemana dia pergi karena telah terkepung oleh para putri Rayys belle.
“Kita sama-sama cium ya” kata Tiwi sambil berhitung... 1.....2......3 dan mereka pun sama-sama meloncat sambil memoncongkan bibir untuk mencium sang kodok itu. Namun
“Aduuuuuuhhh, aaawww, aduh-aduh-aduh...aaaaaaduuuuuuuh” para putri itu menjerit, kodoknya lari malah kepala mereka yang beradu dengan teman-temanya. Kak Taufiq ga bisa apa-apa hanya melihat aja dari kejauhan sambil geleng-geleng kepala. He...he...hee....
Mereka tidak menyerah, berjalan lagi menelusuri sungai itu. Dan akhirnya menemukan seseorang yang sedang memegang sandal ajaib itu.
“he..he...he..he...he..hee.iiniii saaaaannndaaalll eennneng ya?” Kata seorang kakek-kakek yang sudah ompong, peot, hitam, dekil dan kucel sambil memegang sandal ajaib yang memang kepunyaan Tiwi.
“Euuu.eeuuu...euuuh” kata para putri kebingungan
“mungkin itu pangeranya Tiw, cium jangan” kata Shinta berbisik
“Mending kalau itu pangeran, tapi kalau udah dicium tetep aja jadi kakek-kakek iiiihhh takuuut” kata mereka.
“Jadi gimana sekarang” kata Shinta lagi
“euuuuuu..... LAAAAAARRRRRIIIIIII” mereka serempak.
Ya akhirnya putri-putri Rayys belle itu lari dan sampailah pada suatu tempat.
“Gimana teman-teman kita sekarang” kata Rindu kebingungan
“Ya udah sekarang mah kita sepakat tinggal aja disini sampai ada pangeran yang membawa kita” kata Shinta
“Kita namakan tempat ini Babakan ONCOM singkatan dari Orang Nan Cantik Ok dan Manis” kata Shinta lagi
“Yayaya...ok..ok..ok” kata Tiwi, Rindu dan Via
Dan akhirnya sampai sekarang kampung itu dinamakan Babakan Oncom. Dan saung yang biasa dipakai markas para putri Rayys belle. Sekarang suka dipakai tempat ngaliwet cewe-cewe cantik di sana. Kadang kalau kebetulan, suka ada penampakan di saung itu ada para putri RAYYS BELLE sedang ngaliwet. He..he..he
Udah ah.... represingnya.. selamat berjupa di cerita yang lain
Mr.Taufiqurrohman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar